CURCOL

Curcol (20) Fiksi (9) Opini (19) fenomena (20)
Tampilkan postingan dengan label Curcol. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curcol. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Januari 2017

LIFE BEGIN AT MEMORIES

Hari ini 30 tahun yang lalu.

Seorang gadis kecil berkerudung putih, dari balik jendela kelas, mengamati seseorang diam-diam. Nampak anak laki-laki 10 tahun sedang bermain basket sendirian, di lapangan upacara yang digunakan untuk olah raga. Seperti kebiasaannya dalam aktivitas di jam istirahat, anak laki-laki itu mulutnya sibuk mengunyah permen karet kesukaan. Waktu menunjukan hampir pukul 4 sore.

Ada rasa berdesir di hati gadis kecil itu, seperti sapuan buliran pasir yang tak bisa ia terjemahkan, saat membayangkan bahwa saat ini adalah satu-satunya kesempatan dan dirinya harus berani. Berhari-hari ia menantikan hari ini. Perlahan gadis kecil itu berjalan ke luar kelas, menghampiri anak laki-laki yang sedang melempar-lempar bola basket ke ring, tetapi lebih sering tidak masuknya.

"Hai, selamat ulang tahun ya," tangan mungilnya memberikan kotak dengan bungkus kado. 

Anak laki-laki itu menghentikan kegiatannya. Wajahnya merah padam karena panas matahari dan berkeringat.

"Apa ini?" tanyanya, sambil melap keringat di dahi dengan bagian bahu seragamnya. Kemudian ia mengulurkan tangan, menerima bungkusan tersebut.

"Buka saja nanti di rumah," jawab si gadis kecil.

Setelah diterima, gadis kecil itu lari kembali ke dalam kelas. Campur aduk perasaannya.

Butuh waktu 7 hari dia puasa, demi mengumpulkan uang sakunya. Suatu hal yang mustahil dilakukan, bahkan untuk kesenangannya sendiri. Demi satu tujuan; mengesankan pria kecil dari kelas sebelah yang disukainya. Sebungkus penuh permen chicklet.

Hari ini 30 tahun kemudian, tak pernah disangka-sangka, gadis kecil yang sudah tak lagi muda itu masih bisa mengingat jelas momen yang sudah lewat dari seperempat abad. Dan tetap tersimpan dalam ingatannya, hari ini adalah hari ulang tahunnya.

LIFE BEGIN AT FORTY? No, Yo're not 40. You're eighteen with 22 years experience!

HAPPY BIRTHDAY

Sebuah pesan singkat dikirimnya pukul 5 pagi. Dengan segenap rasa cintanya.






Cibubur, dan aku belum mengantuk. Berkhayal indah tentang mu sungguh membuat ku bahagia, Z



Senin, 14 Januari 2013

Pada Suatu Pagi


Selamat pagi kamu yang bangun jam 5 pagi dan tidur lagi, smartphone yang menyala di pukul 7 dan kamu bangun kembali jam 7.30 – mandi , kemudian berangkat kerja. Ya, kamu. Apa kabar mu hari ini? 

Mengingat sekelumit kebiasaan mu adalah hal yang menyenangkan disaat aku jenuh menghitung waktu. Aku masih ingat itu, karena pada jam kamu berangkat – waktu itu – adalah jam disaat aku tiba di kantor. 

Di mulai dengan naik satu angkutan kota, menuju sebuah terminal bayangan, kemudian melanjutkan dengan bis kota mengarah ke timur Jakarta. 

Hai kamu disana yang berkacamata, masih menghisap 234 kah? Aku juga masih ingat kesukaan makanan mu. “Apa saja, asal nasinya hangat”. Dan warung nasi favorit mu, yang ada dekat kantor, “Karena di sana nasinya selalu hangat” – itu alasan mu dulu. 

Kopi tubruk hitam kapal api yang diseduh dengan air mendidih, bukan dengan air panas dispenser apalagi kopi instant, juga merupakan kegemaran mu yang masih melekat. 

Aku juga masih terbayang pertama kali aku mengenal mu. Dari tulisan-tulisan mu yang bikin tersentak, dengan keliaran imajinasi seolah berontak. Terperangah dengan isi blog mu, yang mengingatkan aku akan sosok seorang Abdulah Harahap. 

“Sayang, blog mu hampir setahun berhenti”, Kata ku hari itu. “Dapatkah kamu membuat cerita tentang dendam?” Dan beberapa hari kemudian, kamu pun memenuhinya. Setidaknya, itu yang ku rasakan, biarlah kalau ternyata itu hanya kegeeran ku semata.

Kamu yang suka memakai topi dan bertas selempang kanvas, sebenarnya tidak terlalu banyak yang aku ingat tentang mu. Bahkan aku tidak pernah ingat hal buruk mengenai mu. Mungkin itu cara mu, agar aku selalu mengenang mu pada hal-hal yang indah. 

Disini aku lebih suka mengenang mu, bukan kenangan tentang kita, biarlah itu ku kemas dan dibingkai dengan cara berbeda.




Tanah Abang, Januari 2013

Sabtu, 22 Desember 2012

Bukan hari untuk ku


Siang itu sepulang sekolahnya, seperti biasa Umi terlihat sangat sibuk. Memeriksa buku-bukunya, mengecek tulisan dan tugas-tugasnya, dan tidak lupa melontarkan pertanyaan yang sama setiap harinya, “Ada PR nggak? Ibu guru bilang apa?”.

Acuh tak acuh, bocah lelaki 7 tahun itu hanya menjawab sambil mengangkat bahunya, “Nggak taaaau”.

Umi terlihat gusar. Sudah hampir enam bulan di kelas satu sekolah dasar, Darrel belum juga bisa diandalkan dalam menyampaikan pesan. Umi kemudian terlihat fokus pada ponselnya. Dikirimnya pesan pendek ke nomer Mama Alya, orang tua murid teman sekelas Darrel. Beberapa saat kemudian balasan muncul di layar Ponsel Umi. Ada PR, di buku tematik, halaman 30-31. Lalu Bahasa Inggris halaman 19.

Ada kelegaan di wajah Umi, kemudian Umi mengganti pakaian Darrel dan menyuapinya makan.

“Habis makan, istirahat sebentar, terus kerjakan PR ya?”

Darrel mengangguk.

“Habis ngerjain PR?” tanyanya.

“Bobo siang, baru boleh main.”

Darrel mengangguk lagi.

Umi beberapa kali mengeluh tegang mengahadapi Darrel, khawatir kalau-kalau Darrel tidak mampu mengikuti pelajaran, mengingat secara usia, Darrel memang belum waktunya masuk SD. Apalagi sebulan pertama, Ibu Guru Tarsilah wali kelas 1A mengatakan, Darrel termasuk 10 besar terbawah. 

Belum lagi didapati beberapa tugas yang harusnya diselesaikan di kelas dan dapat nilai, tidak ada dalam buku Darrel. Sekali dua kali, Umi mendatangi Ibu Guru Tarsilah untuk meminta nilai, tapi kemudian Ibu Guru tidak mau memberikannya, “Biar anaknya yang minta sendiri, belajar berani”. Kalau sudah begini, Umi biasanya uring-uringan sendiri.

Bila saatnya UTS dan UAS, Umi akan berpuasa, agar Darrel lancar menjalankan ujiannya. Umi juga memberi peraturan tegas pada Darrel, tidak ada nonton televis selama ujian. Buat Darrel sendiri, segala bentuk aturan yang diberikan padanya, acap kali ditentang. Bila sudah begini, biasanya Umi dan Darrel akan melangsungkan aksi saling diam.

Kemarin, penerimaan raport. Nilai Darrel sungguh melebihi harapan. Angka 8 dan 9 menghiasi kolom-kolom mata pelajaran. Walau tidak rangking, Darrel masuk kategori 10 besar DARI ATAS!

Menerima kabar itu, aku hanya bisa menitikan air mata. Haru, bahagia, dan malu. Darrel berhasil, bukan karerena aku Ibu nya. Darrel bisa, bukan karena Mominya. Aku orang tuanya, tidak berandil besar. Ini semua berkat Umi, neneknya.

Jikalah hari ini merupakan hari Ibu, rasanya belum pantas Darrel mengucapkannya untuk ku. Karena sebagai Ibu, aku bukanlah seperti Ibu yang di maksud dalam filosofi Hari Ibu. “Ibu” selama 7 tahun usia Darrel, sesungguhnya adalah milik Umi, neneknya.

Terima kasih Umi, telah menjadi Ibu bagi aku dan cucu mu. Maafkan Momi, Darrel – belum sempurna menjadi Ibumu sampai hari ini.






Meruya Utara, 22 Desember 2012


Senin, 01 Oktober 2012

Felt



Ternyata tidak mudah menghapus bayangan mu dalam benak ku. Walau sesaat, kenangan hari itu seperti kisah tiada Akhir. Atau itu hanya khayalku Yang terlalu banyak mengcreate cerita?

Sejak kau katakan jangan menaruh hati pada mu, saat itu pula benih rasa sederhana yang Ada semakin tumbuh dan semakin kuat. Bagaiamana ku sanggup menghalau nYa, jika setiap ruang ku selalu ada sosok mu?

Bagaimana aku mampu berkatA tidak pada hati ku sendiri, sementara aku membutuhkannYa?

Aku hanya perlu waktu untuk benar-benar meyakinkan diri sendiri bahwa ini hanya kekaguman, rasa hormat akan diri mu, bukan suatu kondisi Yang melibatkan feel bernama asmara



 Prapanca Raya, September 2012

Senin, 24 September 2012

KALAH JUDI


Maaf, jika Aku tak mau bicara
Tentang kekalahan ku hari itu
Saat dimana aku kehilangan segala yang kupunya
Segala yang ku miliki

Maaf, jika aku tak mau membahasnya
Karena tak ada lagi yang tersisa
semua kartu telah habis aku keluarkan
Hingga tak ada lagi kartu truf untuk ku mainkan
Itu sangat menyakitkan, kamu tau itu?

Sungguh, Tidak ada yang bisa ku katakan
Yang menang telah mengambil semua nya
Yang kalah Cuma bisa pias di pojokan
Ini bukan sekedar permainan, Ini pertaruhan.

Andai kamu tau,
Betapa aku merasa bodoh, karena ku pikir akulah pemenang nya
Aku merasa bodoh, percaya diri bahwa aku bisa melawannya
Aku merasa bodoh, harus bermain mengikuti aturan

Katakan pada ku,
Bagaimana rasa ciuman nya? Apakah seperti ciuman ku?
Bagaimana dia panggil nama mu? Apakah sama rasa nya
Seperti ketika aku menyebut nama mu?
Kamu tau pasti, di dasar hati ku yang terdalam
Aku masih merindukan mu

Maaf, kalo aku tidak mau mengungkit nya
Karena itu membuat ku sangat terluka
Tolong, jangan merasa bersalah, karena kamu tidak salah
Peraturan adalah peraturan, kita harus terima bukan?
Rasanya jabat tangan adalah yang terbaik

Hidup adalah perjudian
Ada yang kalah dan ada yang menang
Dan pemenang telah mengambil semuanya


Dari aku yang kalah

Brawijaya Raya, 12 September 2012





Insipired by : ABBA

AKU DAN PERPISAHAN

Aku benci melihat punggung mu berlalu
Benci harus menatap diri mu yang kemudian menjauh & menghilang

Aku benci menatap mata mu
Mata yang memberikan keteduhan
Mata yang mengirim kehangatan
Mata yang menumpahkan kesejukan
Dan sekarang Harus pergi bersama mu

Aku benci harus memeluk mu
Dekapan yang makin lama makin berat untuk ku lepas
Seperti tak rela harus kehilangan jiwa
Sementara disudut sana ada luka

Aku benci mendengar mu berkata "aku pergi ya"
Itu kalimat paling merobek diantara berjuta aksara
Kalimat yang tak pernah aku bisa rela menerima nya

Aku benci harus jauh dari mu
Aku benci Perpisahan ...



Permata Hijau, September 2012

Selasa, 03 Juli 2012

Matematika


Piala Eropa sudah berlalu. Pesta bola dari benua teromantis di dunia ,  menyisakan berjuta rasa. Kalah & menang, pertandingan tersebut tetap bisa di ukur.  Bisa di duga. Sang maestro hipnotispun tak mau kalah, ikutan menebak skor terakhir dua tim juara tersebut. Begitu kongkrit. Tidak seperti Hati, saat kamu menebak perasaannya

Rasa ketertarikan yang pelan-pelan terpupuk di hatimu, menjadi suatu tanda Tanya besar, “apakah dia juga merasakan apa yang aku rasa?” . Perasaan yang mulai menarik-narik sudut hati mu, rasa yang merebut perhatian dan konsentrasi. 

“apakah disana dia merindukan aku?” – kerap datang Tanya mu, ketika ada satu jeda waktu kamu tak berbicara dengan nya. Rasa gatal ingin menyapa , tetapi sesuatu membuat mu menahannya , “gimana kalo dia nggak rindu aku?”

Berharap dia muncul di social media, sebagai kode bahwa dia “masih ada” dan juga memperhatikan mu, walau di hati berkecamuk “hei, jangan-jangan  itu kode bukan buat ku”

Angka-angka di kertas begitu menyebalkan, suara teman bertanya tak terdengar, entah boss bicara apa saat pertemuan, yang kau tunggu Cuma satu ; sapa dari nya

Ah, mengapa begitu sulit menebak isi hatinya kepada mu, mengapa begitu rumit mengetahui dalam nya rasa di dirinya terhadap mu, sungguh ini rumusan terberat dalam segala bidang ilmu

Kamu mengetahui  berapa ribu kaki tinggi nya pesawat saat kamu meninggalkan Jakarta menuju Papua, kamu tahu berapa jam jarak tempuh kereta eksekutif Jakarta-Jogja, kamu juga bisa hitung lama nya perjalanan dari rumah ke kantor di pagi hari , bahkan saat hujan semalaman turun . Tapi kamu tak akan pernah bisa tau , isi hati nya kepada mu – sampai kapan pun , sama seperti hal nya – sampai kapan hati mu tak bisa melupakan dia. Karena Rasa bukan Matematika




*Untuk mu yang nama nya menyerupai nama ku – tulisan ini aku dedikasikan buat KITA  

MY INVISIBLE LOVER

I die everyday just to live for you 
but my strength is invisible 

I pray for you all the time 
but my wish is invisible 

I am the one crying to see your pain 
but my tears are invisible 

I give you all my support 
but my hands are invisible 

I get happy to see your smile 
but my pleasure is invisible 

I do care for your life 
but my concern is invisible 

I think I am your love
but my soulmate is invisible 

Maybe you won’t see me any day, my dear 
but who cares, my love for you is invisible











-Hardiansyah K-

Senin, 21 Mei 2012

THE SIGN

Dear Arie, 

Pernah ngga kamu mendapat sebuah sign, atau tanda, yang mungkin sebenarnya itu mengisyaratkan akan sesuatu? Dulu temen saya suka Curhat, kalo tiba-tiba perasaannya ngga enak. Saya suka godain
"kasihkan kucing saja" .
"Beneran, Ki! elu mah becanda mulu ah! kayaknya bakalan terjadi sesuatu di kantor deh" gitu katanya.  Sorenya dia bbm , dan bilang
"bener kaan kiii, bosss gue ngamuk-ngamuk di kantor, dan gue kena semprot ..."
saya cuma kasih emoticon ketawa ngakak

Kamu tau Rie? Sign atau tanda, sejatinya adalah sebuah Firasat, kalo bahasa bagusnya intuisi, kalo buat di pakaikan ke objek binatang, kita bilang nya insting. Jawaban sebuah firasat, tidak selalu datang kepada diri kita, karena bisa juga Firasat merupakan pertanda akan terjadi sesuatu pada seseorang yang dekat dengan kita

Firasat adalah sebuah perasaan yang paling sering kita abaikan keberadaannya, padahal jelas-jelas mengusik hati kita.   Kata teman ku yang lain nya ,
"itu karena kita sering mengingkari perasaan dan berharap hal tersebut tidak terjadi'

The Sign satu ini sebenernya merupakan pengalaman ke dua saya, di mana orang yang saya kenal baik, ternayata akan meninggalkan saya untuk selama-lamanya. katanya, kalo orang mau "pergi jauuh", dia akan memberikan tanda sejak 40 hari sebelom hari nya? Tapi pertanda yang satu ini tidak datang dari orang tersebut, melainkan dari diri saya sendiri.

Sudah seminggu lebih saya mencari orang yang bisa membantu membuatkan software untuk inventory kantor, saya tanya sana sini, termasuk atas saran suami saya, untuk menghubungi Kamu yang memang - sepertinya - berkecimpung di bidang itu. Setelah mencari tau no HP kamu ke Icha, saya kirimkan pesan pendek. beberapa jam kemudian kamu membalas , dengan penuh keterkejutan
"Apa kabar mbak? wahh tumben ada apa ini? ya, telpon saja, saya sudah di rumah" .
Keterkejutan kamu ini beralasan, karena kita terakhir berjumpa pada acara buka puasa bersama tahun 2011 di Kemang, dan komunikasi kita hanya sebatas komentar di facebook, kan?

Percakapan singkat kita, tidak lebih dari 10 menit, tanpa menyiratkan apa-apa. hanya bicara tentang kabar dan keperluan saya menghubungi mu. Besok nya selepas makan siang, kamu  gantian yang menghubungi saya melalui instan messenger WhatsApp. intinya kamu berjanji akan memberi saya kabar secepatnya tentang keperluan saya tadi malam. percakapan selesai, karena kamu harus melanjutkan pekerjaan, begitu juga dengan saya.

Keesokan harinya, sekitar pukul , yaaa ... 4 sorean lah, time line di twitter saya penuh dengan berita jatuhnya sebuah pesawat , dan ada semacam perasaan aneh di hati saya, tapi saya tidak bisa menjelaskan apa. Sepanjang jalan pulang, saya teringat lagi pada berita-berita tadi twitter. Dalam sejarah banyak pesawat yang jatuh di tahun-tahun lalu, saya tidak pernah merasa seperti ini. Dan ketika mau tidur, lagi-lagi hati saya berasa "muram" , dan kemudian membangunkan suami saya, yang kondisinya sudah 3/4 tertidur

"Pop, bangun ... kita berdoa'a yuk, sebelom bobo ... doa buat itu, para penumpang pesawat yang jatuh di gunung salak, seandainya masih ada yang selamat, kasihan, pasti mereka kedinginan, sekarangkan lagi hujan"
ujar saya pelan, dengan hati yang ... nggak ngerti, kayak mau nangiss, aja

Jujur Rie, saya jaraaaang berdoa sebelom tidur (kecuali tidur sama anak, pencitraan dikit lah), apalagi berdoa ngajak-ngajak orang, meski orang itu suami sendiri. Seingat saya itu bukan "saya banget" deh.

Keesokan harinya, twitter saya full mention dari teman-teman yang mengabarkan kalo Ari Yusuf, anak Akindo, adalah salah satu manifest sukhoi yang jatuh tersebut.
Whats?! it's imposible. Nama Arie Yusuf cuma 1, dan itu kamu ... Apa hubungannya kamu bisa ada di pesawat?
saat itu juga saya hubungi no kamu Rie, yang dalam daftar REDIAL di Blackberry saya pun masih pada posisi paling atas ! 

nomor kamu tidak dapat di hubungi

Hari itu saya cuma bisa saling SMS an, DM an di twitter, bbm an, dengan teman-teman sambil air mata ngga berhenti ngalir di pipi. Apakah 2 hari kemarin adalah pertanda? Tidak bukan. Saya masih mengingkari.
Ya Tuhan, kenapa Arie? tanya saya dalam hati. Kenapa orang yang saya Kenal, orang yang kemarin masih berbincang dengan saya?
dan kelak pertanyaan tersebut saya sesali, karena artinya saya tengah mempertanyakan akan kuasa Tuhan. ini sudah Takdir & jalanNya, dan saya meyakini itu. Ditengah kesedihan & duka yang saya rasakan, saya bersyukur masih di beri kesempatan berkomunikasi terakhir dengan kamu, Rie. itu lah sign terakhir dari kamu untuk saya, sign yang sampai sekarang masih sulit rasa nya untuk bisa saya percaya , tapi itulah ada nya

Kamu inget status terakhir mu di WhatsApp?
"at school. school of life" .
Ya, sahabat ... kini kamu sudah Lulus sekolah , sekolah kehidupan, kamu sudah ngga belajar lagi disini. Kelak saya pasti akan Lulus juga, menyusul mu di sana. 

Saya Janji, akan selalu mengunjungi mu, melalui mesin waktu, yang saya sebut sebagai KENANGAN , kenangan kebersamaan kita pada saat silaturrahmi buka puasa , nikahan Ocky atau yang lainnya . 

Selamat Jalan Arie ...



Jumat, 10 Februari 2012

Long Road III

Waktu itu kalo ngga salah selesai semeseteran pertama (tahun itu sistem nya per semester / 6 bulan, bukan catur wulan), waktu Bokap nanya "gue mau jadi apa, dan kuliah dimana?" gue mikir ... apa Ya? gue kan bukan anak TK yang cepat jawab pas d tanya "cita-citamu apa Nak?"
"Pokoknya Bapak ngga mau kamu kuliah lantaran memang harus kuliah atau karena teman-teman mu kuliah. kamu harus punya tujuan. Bapak mu bukan orang Kaya, jangan sia-sia kan biaya. Oh iYa, 1 lagi. Cukup D3 aja. Karena kamu perempuan. Sarjana buat laki-laki. Pertimbangan bapak, kalo perempuan gelarnya ketinggian, nanti cowok minder pas mau ngelamar kamu. Dan Bapak juga ngga mau, kamu udah sekolah mahal-mahal, sarjana pula, eh ngga berkarir, cuma jadi iBU rumah tangga" . Pemikiran yang konvensional, tapi emang bener, bathin gue

Hmmm, gue mikir ... D3, sesuai keinginan? apa Ya?
Dulu, gue seneng banget liat Desi Anwar, Atika Suri, atau siapa aja yang nongol depan TV ngebawain berita atau laporan siaran langsung. Apa itu Namanya? Reporter? Reporter itu emang sekolahnya apa? Hahaha, Ya ya ya, gue akhirnya menemukan "cita-cita" gue . "Ridzki mau kayak yang di seputar Indonesia" kata gue memberi jawaban sebulan kemudian sama Bokap. Ooooh, Oke. Itu sekolahnya di Komunikasi. Dan sejak itu, gue dan bokap Hunting sekolah berbasis jurnalis dan komunikasi yang Diploma. Tapi Sayang ... Jakarta tidak menawarkan sekolahan tersebut. Ada satu-satunya ya cuma di Yogyakarta. D3 Komunikasi UGM, namanya. Dengan jurusan PR-Broadcast-Advertising

Maka dengan pertimbangan D3 itu tadi, Bokap mengizinkan gue ikut test di D3 Komuniaksi UGM, 2 kali, dan 2-2 nya NGGA LULUS. Hahahaha. Kemudian, seleberan D3 Swasta Komunikasi Bernama AKINDO, memberikan alternativ gue untuk tetep melanjutkan study di Yogya, dengan biaya Swasta. **
(ini udah gue pernah kisahkan dalam catatan gue yang berjudul KERAJAAN AKINDO)

1995 - 2002

Inget di catatan sebelumnya, gue pacaran sama bekas kakak kelas gue waktu SMP? menjelang gue mau lulus SMA, dia mutusin gue dengan alasan, dia punya pacar baru. Saat itu gue ngerasa hopless banget, secara gue masih cinta ama dia. Tapi apa boleh buat, mungkin ini yang terbaik. kepergian gue ke Yogya mungkin bisa menghapus memori gue soal dia.

Hari pertama masuk kelas di Akindo, gue nyaris jatuh dari tempat duduk, karena ada cowok mirip banget sama mantan gue itu. Gue sempet berpikir, itu dia. Mata gue ngga lepas ngeliatin. Lo percaya jatuh cinta pada pandangan pertama? Itu Yang gue rasakan. Gue Jatuh cinta sama sosok itu. apa iYa jatuh cinta? Apa karena mirip, dan gue terobsesi dengan mantan gue? I dont know. Yang pasti, sejak hari pertama gue masuk kuliah, gue ngga sanggup berada dekat dia ... gue gemeteran, keringet dingin. Anjrit! Ngajak ngomong aja gue NGGA BERANI.

Gue menyelesaikan D3 selama 4 tahun. Gue mahasiswa biasa. Ngga menonjol dalam pelajaran. Tapi lumayan di kenal di kampus. Terutama sama adik kelas. Hahaha. Maklum, suka tepe-tepe (baca : tebar pesona). Hihihihi .... Hidup gue di kelilingi banyak laki-laki. Baik teman, teman dekat, teman baik, atau teman tapi mesra. Cuma ada 2 cowok yang bener2 tahan jadi pacar gue waktu itu. Dan dengan penuh kesadaran, gue lebih sering nyakitin dengan banyaknya teman2 laki2 gue. Itu baru di kampus. Di luar kampus, sepak terjang gue untuk urusan cowok, gue bener2 gila. Gue ngga ngerti, dengan siapa pun waktu itu, hati gue tetep ngga bisa berubah, dengan cowok "hari pertama gue di kelas". Meski pun beberapa kali, dalam tugas kami kerja bareng, cowok itu tetep untouchable sama gue. Ah, gue di bikin gila karena "siakap dingin" nya

One Day ... di tahun 1998, ada satu waktu yang sampe mati gue ngga akan pernah lupa. Angkatan gue menjadi tamu kehormatan untuk malam inagurasi angkatan 98. Gue dan temen2 dateng ke acara itu. Ehm, dengan sedikit taktik, gue akhirnya berhasil jalan satu motor dengan cowok ituuuu .... huhhuhuhu ..... Suasana dingin, hujan rintik di Kaliurang, bener2 bikin romantis dan ah ... kebawa bangett deh. Dengan bantuan Vodka untuk mengahangatkan tubuh, hehehe, suasana gue dan dia pun juga sedikit menghangat. Dengan kondisi "sempurna" gue beranikan diri mengakui 3 tahun perasaan yang gue pendam pada dia. Buat gue saat itu, dia harus tau, dan gue ngga nuntut dia jadi pacar. Gue cuma mau dia tau BETAPA GUE JATUH CINTA SAMA DIA.

Malam itu jadi malam yang amat panjang, karena dia sepertinya ngga siap dengan "serangan" gue. Dan gue udah di butakan oleh Cinta. Besoknya, saat sudah kembali ke kost, gue coba menanyakan lagi. Dengan bijak dia menjawab "aku belum bisa mencintai mu, karena kamu tau hati ku saat ini sama siapa? tapi aku bersedia jadi pacar mu"

Huaa .... mendadak kamar kost penuh bunga, penuh kupu-kupu, dan ada kembang api bak malam tahun baru di ancol. Gue bahagia , tak terperi, ciyeeeee .... gue belum pernah bahagia seperti ini, gila gue belom pernah mendam perasaan sama orang, sementara orangnya ada depan idung gue, dan gitu gue ungkapin perasaan, dia nerima gue , meski dengan sYarat. Gue ngga peduli. Gue yakin, pelan2 gue bisa rebut hati dia. Gila, 3 tahun aja gue sanggup nunggu, masa sekarang gue ngga mampu merebut hati dan cinta dia? Dia lah soulmate gue. Dialah belahan jiwa gue. Ngga akan ada yang lain selain dirinya. Gue mencintainya sepenuh hati gue. Hidup dan mati gue untuk bersaamanya. Ah, sejuta kalimat ngga bisa gue ungkapin untuk menggambarkan perasaan gue.

Ternyata hubungan gue ini banyak banget rintangannya. Belum genap seminggu gue resmi jadian, 75% teman2 gue menjauhi gue. Mereka menganggap apa gue, gue ngga tau. Gitu juga dengan teman2 cowok gue. Yang jelas kelihatan adalah, mereka ngga rela "angel dan demon" pacaran. Siapa sih yang ngga kenal gue? dengan segala tingkah laku dan sepak terjang dengan predikat jelek? Sedangkan tu cowok, bener2 clear dari skandal ataupun cerita buruk?

Masalah selanjutnya timbul, soal kepercayaan. Kami berbeda keyakinan. Dulu gue sempet berfikir, ah ini cuma pacaran, bukan berarti harus nikah sama dia. Tapi semakin lama, hati gue semakin terikat, gue ngga bisa hidup tanpa dia ... di tambah masalah baru lagi, gue mesti menjalani long distance, karena keputusan bokap untuk gue kuliah D3 aja di tarik, dan gue di izinkan melanjutkan s1 di Solo, sedangkan pacar gue tercinta mendapatkan pekerjaan di Jakarta.

One day, kami pernah putus. Dalam putusnya, dia memberikan syarat. Jangan punya pacar kalo masih mahasiswa, dan jangan lagi beda agama. Kalo masih kayak gitu kondisinya, gue suruh balik lagi aja sama dia. Oooooh, betapa ternyata dia juga ngga mau kehilangan gue, so sweeet. Dan syarat yang dia ajukan, ngga bisa gue penuhin. Maka dari itu, dengan kesadaran dan cinta, gue kembali bersatu.

Hidup gue bener2 berubah saat sama dia. Gue lebih"terkendali", pengaruh cinta gue yang dalam ke dia begitu besar. Suatu hari, dia berkata, bahwa dia Mimpi, sholat bareng gue, dan dia jadi Imam. Gue bertanya apa artinya? Dia jawab ngga tau. Dengan kesungguhan dia bertanya, apakah gue mau jadi istrinya? Gila ... gue mau banget. Gue mau menghabiskan sisia hidup gue bersama dia. Lalu, bagaimana dengan perbedaan ini. Dia lalu menjawab "Sesungguhnya Tuhan itu cuma 1. Cara kita saja yang berbeda untuk menyembahnya. Kalau memang keluarga ku, aku-anak ku- bisa bahagia dengan cara mu menyembah Nya, aku bersedia" .... OH MY GOD

Gue semakin yakin, dia lah jodoh gue. Dia lah belahan jiwa gue. Ditambah kedua orang tuanya pun mendukung keputusan dia. April 2003 dia resmi mualaf, dan September, dia ngelamar gue. Sudah tau kan siapa orang itu? iYa, dia adalah Suami gue , Firman Ismayanto. Yang sampe detik ini, tetap setia melebihi siapapun kepada gue.

2003 - sekarang

Selepas menyelesaikan study S1 , gue coba mewujudkan keinginan gue as Reporter di dunia Broadcast. Gue sempet kerja di sebuah Radio, bukan sebagai penyiar, tapi sebagai pembuat materi siaran, namanya sih Reporter juga. Di Delta FM. Ngga lama, cuma 4 bulan, dan gue bener2 jadi Reporter di Infotainment Kroscek

2004 gue mengikatkan janji sehidup semati dengan Firman IsmaYanto, di depan penghulu. Till death do Us apart , kata white lion. Lalu merayakan juga di Balikpapan. 2005 akhir , anak Gue lahir, alhamdulillah, sehat dan sempurna. Dan Mirip banget bapaknya. Hahaha. Horeeee, perbikan keturunan.

33 tahun hidup gue, ngga pernah ada yang ternyata begitu berat gue jalanin. Semuanya bisa gue laluin dengan baik-baik saja. Hidup 33 Tahun gue amat sempurna. what the hell ada pepatah yang mengatakan "tidak ada yang sepurna", tapi buat gue, hidup gue sudah amat sempurna.

Terima Kasih Tuhan, atas berkat dan Rakhmat Mu memberikan ku nafas sampai 33 tahun. Amien.

T A M A T

Long Road II

1989 - 1991

Akhirnya gue lulus SD, dengan NEM (dulu masih NEM Kan namanya?) yang lumayan lah, bisa masuk kae SMP PAPORIT . Tapi pada Tahun tersebut, Depdikbud membuat kebijakan sistim Rayon, artinya, sudah di tentukan SMP-SMP yang terdekat dari SD sebelumnya daaan tentunya dari rumah. SD gue dapet RAYON ke SMPN 233. Kami histeris! Maaf-maaf kata, siapa sih yang ngga kenal dan tau SMP 233? Dengan predikat buruk dan black list, dimana konon kabarnya itu "SMP BUANGAN"? katanya, NEM 20 juga bisa masuk situ !

Beberapa temen gue milih masuk swasta (karena ketakutan orang tuanya), dan gue termasuk dari bagian kebanyakan anak yang "pasrah" nerima keadaan. Alhasil, SMP 233 "terangkat" derajatnya saat angkatan gue masuk . Sampai akhirnya gue lulus, SMP 233 menjadi FAVORITE untuk angkatan berikutnya, dengan standar NEM yang sangat tinggi (Berarti kebijakan Depdikbud berhasil Ya?)

Di SMP gue punya "gambrengan". Namanya The Seven Girl. aiiiih! Hahaha ... isinya Ya pasti 7 cewek badung. Tuh genk NGETOP banget. Dan tau dong siapa kepala Gank nYa? hahaha *malu ah*
Kayak cerita-cerita AADC dan sinetron remaja akhir-akhir ini yang berlatar belakang anak sekolah, genk gue juga kerjaannya ngelabrak cewek yang ngerebut cowok, trus (ceritanya) ngebelain teman yang tertindas, ribut sama kakak kelas (biasanya sih soal cowok hahahaha) jailin guru, dan pastinya banyak yang pengen "deket" sama Genk gue. Xixixixi , ke kantin bareeeng, pulang sekolah bareeeng, nunggu angkot bareeeng (maklum kan sekolah di kampung, jadi ngga jual mimpi dengan bawa mobil dan supir pribadi hahaha)

Waktu SMP kelas 1, gue naksir cowok, bukan anak satu sekolah, kenalannya waktu puasa-puasa, dalam acara PESANTREN KILAT (dasar gila, "nyantren" malah dapat pacar hahahaha), dialah pacar pertama gue. Orangnya cakep, idung mancung, kulit hitam, bulu mata lentik. Untuk ukuran cowok, buat gue dia terlalu "cantik", cuma gue demen, gimana dong? Usianya 3 tahun diatas gue.

Kelas 2 SMP gue kenalan sama cowok indo belanda. Tinggi, cakep jangan tanya, yang pasti di bawa kondangan ngga malu-maluin deh. Cuma ngga lama, soalnya dia blo'on sih! Hahaha, sumpah! Ganteng tapi kalo ngomong jaka sembung bawa golok !! Kan capeee ... . Ngga lama gue deket sama temen kakak gue, orang menado. Putih dengan mata sipit. Tapi ngga pacaran. Dan gue memuja dia. Kelak, karena dia lah , gue terobsesi sama cowok dengan tipikal oriental

Kelas 3 SMP gue punya pacar lagii, dulunya kakak kelas , tapi udah lulus. Kalo sama yang ini, gue ngga pernah surat-suratan, tapi kami punya satu buah DIARY tebal, yang ada gemboknya, dan kami saling menulis pesan di sana, layaknya nulis surat. Kurirnya temen sekolah gue, yang nota bene tetangga die. hehehe. Sampe sekarang, DIARY itu masih gue simpan. Cieeee ...

Dari tadi cerita pacar mulu, sekolah gimana? Aduuuh, gimana Ya? Sekolah gue, biasa-biasa aja. Yang penting Rapot gue ngga ada merahnya deeeh. Hehehe.


1992 - 1995

Tahun 92 gue masuk SMA. Lagi-lagi sistem RAYON. Namanya SMA 99 (sekolahnya Widi AB3 dan Vira Yuniar Tuuuuh ... hehehe), kalo ngga salah, waktu gue masuk, gue itu angkatan ke 4. Yup, itu SMA baru. Kebayang kan? Lagi2 angkatan gue "menaikan" kasta. Dan kedepannya, SMA 99 menargetkan NEM tinggi pada siswanya. Hmmm, jadi SMA Favorit? sudah pasteeee ....

Di SMA gue biasa-biasa aja. Ngga berpretasi. Ngga cantik. Tapi Famous dengan nama KEATING. Kalo ada yang nanya Ridzki, ngga ada yang kenal (kecuali yang satu SD dan SMP). Tapi coba sebut nama Keating ... wohohoho ... sampe2 cuma guru yang tau nama asli gue. Hihihihi ...

Di awal kelas satu, gue sempet merhatiin seorang cowok. Gue kayak kenal ini cowok. Ngga asing. Tapi siaapa? ... pas absen, baru deh gue inget dan Yakin, kalo itu cowok ternyata temen TK gue yang namanya FIRMAN , hahaha ... pantessss, dan hahaha, gue cuma bisa senyum2 sendiri, secara ya ciiin, doi tuh cupuuuu bangettttt .... hahahaha, masih putih, masih agak2 bule, muka nya jerawatan, dan pendiem banget ... Ya U know lah cowok cupu kek gimena? hihihi ... seinget gue, gue ngga banyak ngobrol sama dia, cuma dia inget, kalo dulu, 9 tahun lalu, pernah satu TK ama gue ... hauahauahauuu ...

Gue lumayan agak urakan, maksudnya, bukan cewek dandan lah. Tomboy. Kutilang darat pula. Gue ngga pernah belajar. Kerjaan gue kalo ada PR, gue akan datang lebih pagi dan nyalin PR temen. Hahaha. Besok ulangan, malamnya gue sibuk ... sibuk bikin kepekan (contekan) maksudnya. Hahahaha. Dari semua mata pelajaran, nilai gue tinggi cuma di pelajaran agama. Gue senang mendebat, dan berdiskusi untuk mata pelajaran ini. Dan gue ngga asal njeplak, karena ternyata, semua yang gue pelajarin waktu Madrasah, semuanya keluar dengan sendirinya. Gue debat karena gue paham. Hal yang gue paling inget adalah, dimana temen2 gue pada panas dingin - ketika pengambilan nilai membaca Alqur'an - dan semua terkesiap, waktu giliran gue. Lancar tanpa salah plus tajwid yang benar.

Ah ... kalo aja dulu mau serius dan ngga kabur2 an waktu sekolah Agama, ilmu gue ngga akan sampe situ. Nggak, ternyata gue ngga nyesel, dulu gue ngga bisa main dan tidur siang, karena ternyata itu bekal gue untuk kedepannya, bahkan seumur hidup gue. Hmmm ... Ngga ada itu yang namanya maksud jelek orang tua, yang ada, gue yang berprasangka buruk pada Mereka. Dulu gue anggap, orang tua gue "nyiksa" gue dengan beban sekolah 2x, tapi sekarang, gue pahamin, gue ngerti ... mereka tau yang terbaik buat gue *jadi maluuuu*

Kata orang masa SMA adalah masa-masa paling indah. Tapi buat gue ngga tuh. Abisss, gue ngga punya pacar (disekolah). Hahaha, siapa yang mau pacaran ama gue? "lelaki" banget. Pernah sih, coba pedekate ... ampe pura-pura pake nama lain, yang benernya nama gue yang spellingnya di bolak balik. Tapi "saingan" gue cewek paling cantik di sekolah, hahaha, kelaut aja deh gue ... xixixi , kata temen-temen cowok, mereka happy berteman sama gue, karena gue asik, bocor, gokil abis ... tapi ngga enak buat di pacarin. Hahahaha ... sialaaaan .... jadi, gue cuma bisa gigit jari, kalo lagi jalan bareng2, cuma gue yang ngga ada "pasangan" nya ... hikz hikz ...

Di sekolah gue, ada Ibu guru, dia orang batak, namanya Ibu Gultom. Waktu itu gue udah kelas 3. Cuma ibu Gultom ngga ngajar. Mukanya aja galak, tapi hatinya baiiik banget (ini gue tau kemudian). Ibu Gultom punya anak cowok. Namanya Joan Chandran. Cakepppp abizzzzzz. Disekolah gue ngga ada cowok secakep diee deh. Gue dan temen2 gue taunya karena Ibu Gultom naro Foto keluarga di meja kerja nya. Diem-diem, gue gerilya untuk cari tau soal Joan. Gue dapet alamat dan no telponnya. Suatu malam, gue iseng nelpon, pura2 cari Ibu gultom, setelah ngalor ngidul, gue bilang "bu kenalin sama Joan dong" hahaha, eeeh, di kasih tu telpon, dan kenalan lah gue sama Joan by phone. Sejak itu, gue rajin nelponin Joan.

Kalo di sekolah, gue ngga pernah lagi ke kantin pas jam istirahat. Gue ke ruangan Bu Gultom. ada-ada aja yang gue kerjakan, ngajak ngobrol lah, nuker duit lah, apa aja. Buntutnya gue nanya2 soal Joan. Hahaha. Dan Ibu Gultom akan cerita panjang x lebar soal anaknya yang keren itu. Dan target gue 1, ngajak Joan sebagai pasangan gue di acara perpisahan sekolah. Setelah gue merasa "dekat" dengan Ibu Gultom, gue minta izin sama Bu Gultom. Bolehkah saya mengajak anak ibu ke pesta perpisahan? Jawab Ibu Gultom "oh boleh, nanti saya suruh dia datang buat nemenin kamu". Horeeeee !!! MISI BERHASIL !! Wakakakakak ....

PESTA Perpisahan tiba. Joan datang. Dan dia sebagai pasangan gue. Hahahaha, gue sengaja milih tempat paling belakang, secara pintu masuk cuma satu, lewat pintu depan. Dengan demikian, semua mata memandang kami. Hahahaha. Horeee, semua temen2 gue takjub memandang ngga percaya, Keating, si urakan, si gak cantik, si gokil dan bocorr, ngga punya pacar, datang pada pesta sekolah dengan anak Ibu Gultom yang handsome ituuu? How Come? Huhuhu ... idung gue kembang kempis coY, GR, hahaha, girang, tapi pura2 coool. Dan , temen2 cewek gue, serempak ninggalin kursinya (padahal ada pacarnya masing2) nyamperin gue dan minta kenalan. Hahahaha .... *emoticon disko jari*

Biarin deh gue ngga punya pacar. Bukan masa2 indah remaja. Tapi kisah tadi benar menutup masa SMA gue, dan berasa seperti pepatah lama "Jagoan menangnya belakaangan" hahaha .... eniwei, Joan kemudian ngetop, sebagai presenter, bintang iklan dan bintang sinetron.

BERSAMBUNG

** Bagaimana gue bisa terdampar di Yogya? Gimana kehidupan gue sebagai anak Kost? Benarkah soulmate gue udah nunggu di sana?

Aku Rindu Jatuh Cinta

Kepada kamu,
Dengan penuh rasa RINDU.

Aku Rindu jatuh cinta. Aku Rindu merasa senang bertemu lagi dengan kamu, tersenyum malu-malu, dan menebak-nebak, selalu menebak-nebak. Aku Rindu deg-degan menunggu kamu online. Dan di saat kamu muncul, aku akan tiduran tengkurap, bantal di bawah dagu, lalu berpikir, tersenyum, dan berusaha mencari kalimat-kalimat lucu agar kamu, di seberang sana, bisa tertawa. Karena, kata orang, cara mudah membuat orang suka denganmu adalah dengan membuatnya tertawa.

Aku Rindu terkejut melihat SMS kamu nongol di inbox-ku dan aku Rindu saat-saat aku harus memakan waktu begitu lama untuk membalasnya, menghapusnya, memikirkan kata demi kata. Aku Rindu ketika jatuh cinta, semua detail yang aku ucapkan, katakan, kirimkan, tuliskan ke kamu menjadi penting, seolah-olah harus tanpa cacat, atau aku bisa jadi kehilangan kamu. Aku Rindu saat berada dalam posisi seperti itu.

Aku Rindu saat menerjemahkan isyarat-isyarat kamu itu. Apakah pertanyaan kamu itu sekadar pancingan atau retorika atau pertanyaan biasa yang aku salah artikan dengan penuh percaya diri? Apakah kepalamu yang kamu senderkan di bahuku kemarin hanya gesture biasa, atau ada maksud lain, atau aku yang-sekali lagi-salah mengartikan dengan penuh percaya diri?

Aku Rindu saat memikirkan kamu sebelum tidur dan merasakan sesuatu yang bergerak dari dalam dada, menjalar ke sekujur tubuh, dan aku merasa pasrah, gelisah. Aku Rindu untuk berpikir aku bisa begini terus semalaman, tanpa harus tidur. Cukup begini saja.

Aku Rindu saat logika aku bersuara dan mengingatkan, “Hey! Ini hanya ketertarikan fisik semata, pada akhirnya kamu akan tahu, kalian berdua tidak punya anything in common,” harus dimentahkan oleh hati yang berkata, “Jangan hiraukan logikamu.”

Aku Rindu jatuh cinta, terutama kepada kamu. Demi Tuhan, aku Rindu jatuh cinta kepada kamu. Karena, di dalam perasaan menggebu-gebu ini; di balik semua rasa kangen, takut, canggung, yang bergumul di dalam dan meletup pelan-pelan ...

aku Rindu berada dekat mu


(take from Raditya Dika "Kepada Cinta", Gagasmedia 2009)

Kamis, 09 Februari 2012

CEMBURU

BALITA

Gue terlahir sebagai anak ke dua saat kakak perempuan gue berusia 4 tahun. Menjelang balita, Kakak perempuan gue jarang mau ajak main gue, mungkin ngerasa malas ya nenteng2 anak kecil .
Alhasil gue selalu main di rumah tetangga, yang beda usianya sebenernya Cuma 6 bulan diatas gue. Namun karena sama2 dari Jawa, adat mengharuskan gue memanggilnya dengan sebutan Mas.

Namanya Fauzi, dan gue menyapanya nya dengan sebutan Mas Uji. Mas Uji adalah bungsu dari 3 bersaudara, makanya dia suka banget ama sosok “adik”, dan memang ngemong banget sama anak yang lebih kecil.
Bertahun2 gue selalu main di rumah mas uji, karena emang banyak mainan dirumahnya yang gue nggak punya, kalo gue nggak di kasih pinjem mainannya, gue akan “pura2” ngambek, dan bilang “Ya udah, Ridzki pulang” dengan muka cemberut, dan Mas Uji yang pasti langsung ngalah, dan narik lengan gue agar jangan pulang.

Mas Uji punya kucing, namanya Belang. Kata mas Uji, itu kucing gue juga. Sumpah, Mas uji berbagiii banget sama Gue. Sampai2 Gue membatin, andai kakak nya Mas Uji, bukan Kakak cewek jelek nggak mau ajak gue main itu. gue pengen banget punya kakak laki2.

One day, ada tetangga baru dateng, punya anak sekitar 8 bulan , baru bisa duduk kok. Ukh, menggemaskan lah. Itu yang dikatakan mas Uji. Mas Uji seneeeng banget main ama tu anak. Diam-diam gue kok keseel, nggak terima, merasa diabaikan, dan gue NGGA SUKKA ama anak kecil itu !! Yang Gue tau, sejak itu Mas Uji berbeda. Kalo Gue pura2 ngambek ngancem pulang, Mas Uji nggak peduli lagi, dengan cuek berkata “Ya udah sana Pulang”. Karena anak kecil itulah, hari-hari ku "kehilangan" Mas Uji

SMP

Waktu itu gue kelas Dua, saat pertama kali gue ketemu sahabat gue yang bernama Marca. Kami sekelas, dan sebangku pula. Every single day, hari-hari gue lewati sama sahabat gue ini. Karena sebal melihat kami yang selalu berisik, akhirnya suatu hari, wali kelas memutuskan untuk "memisahkan" kami, dan kami pun praktis tidak lagi sebangku

Ketika ada tugas membuat makalah, Marca tidak memilih gue sebagai teman nya, tapi dia milih teman sebangku baru nya. Dengan perasaan sedih, gue akhirnya mengerjakan dengan teman lain

KULIAH DI YOGYAKARTA

Saat itu, belum genap sebulan, hubungan gue dengan pacar gue Firman. Ketika gue memasuki kehidupannya, sesungguhnya hati dia masih tertinggal separoh pada serorang cewek, yang nota bene udah jadian sama yang lain . Suatu hari, saat makan malam di warung Pecel lele, kami berjumpa dengan cewek tersebut dan pacarnya , dan gue melihat dengan jelas air muka Firman yang berubah jadi ngga enak, dan merasa terganggu dengan pemandangan tersebut. Gue bertanya "kenapa?" sebenarnya gue udah tau jawabannya, tapi gue tetep mau ada suatu kata keluar dari mulut nya. Tapi saat itu, dia cuma bilang "Nggak apa-apa"


SAAT INI

Butuh waktu 6 tahun, untuk gue kembali bisa mendapat sedikit perhatian HTL, sahabatku saat kuliah dulu. Kami berpisah bukan karena masalah, tapi memang waktu dan jarak yang membentang. Betapa bahagianya gue, saat mengetahui bahwa dia juga masih mengenang betapa baik dan dekatnya hubungan kami. Hari-hari kami kemudain di isi dengan berbagi cerita, walau hanya lewat telepon ataupun chatting. Kami tetap saling memberi perhatian satu sama lain. Ngga banyak sahabat lama yang tetap bisa seperti ini. Kami tidak pernah barjanji apapun, karena kondisinya memang gue sudah tidak sendiri. Buat gue, perhatian dia dalam setiap percakapan itu sudah lebih dari cukup

Suddenly, gue dapat kabar, bahwa HTL berpacaran dengan sahabat, saudara sekaligus adik gue. Orang yang paling gue percaya selama ini, orang kesetiaan gue. Ironisnya, I'm the last stupid to know. HTL juga berubah, dia ngga mau balas SMS, sikiapnya pun mendingin. Dan tanpa bisa di bendung ... perasaan masa kecil gue dengan Mas Uji kembali datang, tapi kali ini gue sudah paham ... apa arti semuanya

CEMBURU

Ya, gue cemburu sama anak kecil itu, karena dia gue kehilangan Mas Uji ku
Ya, gue cemburu dengan teman sebangku sahabatku Marca, karena dia gue kehilangan Marca jadi teman sekelompok ku dalam menjalankan tugas
Ya, Firman ternyata Cemburu, saat melihat orang yang membawa separuh hatinya waktu itu, bersenda gurau dengan pacarnya
Dan Ya, gue cemburu pada adik kesayangan gue, karena gue akan kehilangan HTL seperti gue kehilangan Mas Uji Ku

Hakekatnya, cemburu merupakan fitrah manusia, kisah percumburuan sudah muncul sejak adanya relasi cinta antar manusia di muka bumi ini. Cemburu adalah fitrah manusia sebagaimana nampak pada jiwa anak kecil yang selalu menuntut perhatian paling besar dari orang tuanya atau dari gurunya

Cemburu adalah tanda cinta, meski belum tentu sebenar-benar cinta. Cemburu karena merasa diabaikan. Cemburu karena takut kehilangan. Cemburu karena merasa tersaingi. Cemburu, karena GUE MEMILIKI RASA

Ah CEMBURU, memang penyakit KALBU. SALAHKAH ?




Mei 2009